Nalantara.id – Suatu kali, Sukarno mengusulkan Pancasila. Ia bahkan menyimpulkan Pancasila dengan istilah “gotong-royong”! Semangat gotong royong adalah landasan negara Indonesia. Terbukti, Soekarno mencita-citakan suatu keadaan kerja sama timbal balik bagi rakyat Indonesia. Berbagai persoalan di atas akan dilihat dalam konteks negara gotong-royong menurut Soekarno, sehingga pembahasan akan difokuskan pada: pertama, apa sebenarnya konsep gotong-royong yang diusung oleh Soekarno (sehingga dijadikan dasar Pancasila), dan kedua, bagaimana mengkontekstualisasikan semangat gotong-royong seperti yang dicita-citakan Soekarno di era sekarang menuju Indonesia yang lebih baik? Ketiadaan atau menipisnya semangat gotong-royong bisa menjadi akar dari banyaknya kesulitan bangsa Indonesia. Bagaimana realitas sesekali mengamalkan nilai-nilai gotong royong saat ini? adalah pertanyaan yang bersangkutan. Apakah nilai gotong royong telah berkurang akibat zaman, globalisasi, dan individualisme? Keadaan saat ini menunjukkan bahwa Gotong Royong tidak lagi berarti bagi keberadaan manusia. Apa sebenarnya arti bila sering terjadi tawuran, kerusuhan besar-besaran, elitisme partai, individualisme, konflik antarpribadi, diskriminasi proletariat terhadap bangsa, etnosentrisme berkedok memuji budaya sendiri sambil merendahkan budaya lain dan menghina orang lain berdasarkan agama apa arti sebenarnya? Ada apa dengan Negara?
Menurut Yayasan Pelita, gotong royong adalah kerjasama yang dilakukan secara sukarela oleh desa sejak nenek moyang kita dalam buku Pendidikan Moral Pancasila. Menurut pembenaran ini, gotong royong sudah ada sejak nenek moyang kita. Ini dianggap sebagai kerja sama timbal balik, warisan yang harus dilestarikan oleh budaya agar tidak dilupakan atau bahkan hilang
Menurut Bintarto, sistem kebudayaan Indonesia memuat empat konsep yang berkaitan dengan korelasi gotong royong sebagai nilai budaya: bahwa manusia tidak sendirian di dunia ini tetapi dikelilingi oleh masyarakatnya; bahwa manusia saling bergantung satu sama lain dalam segala aspek kehidupan; bahwa seseorang harus selalu berusaha menjaga hubungan baik satu sama lain; dan bahwa seseorang harus selalu berusaha berlaku adil terhadap orang lain.
Partisipasi generasi muda dalam era globalisasi berasal dari kata era yang berarti proses dan globalisasi yang berarti mendunia. Rasa tanggung jawab dan kekhawatiran bersama antara laki-laki muda mulai berkurang dari perkembangan zaman ini. Ketika rasa kebersamaan mulai memudar dan segala upaya yang dilakukan tidak lagi sukarela dan hanya dihargai dalam bentuk barang atau uang, nilai gotong royong mulai memudar. Kesimpulannya, rasa kebersamaan lambat laun akan hilang karena jasa yang diberikan selalu diperhitungkan atau riya’ berupa keuntungan uang, dan hadiah hanya boleh ditentukan bagi yang memiliki dan membayar. Nilai-nilai luhur masyarakat semakin tergerus oleh kondisi material kekinian. Oleh karena itu kita harus memperhatikan bagaimana mencegah sikap apatis generasi muda terhadap budaya gotong royong. Sangat diantisipasi bahwa anak-anak muda akan berkontribusi pada pertumbuhan negara kita.
Menurut Theresia, Gotong royong memiliki banyak sekali sisi positif diantaranya:
- Meringankan beban pekerjaan yang harus ditanggung.
- Menumbuhkan sikap sukarela, tolong-menolong, kebersamaan, dan kekeluargaan antar sesama anggota masyarakat
- Menjalin dan membina hubungan yang baik antarwarga masyarakat
- Meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan nasional
Sejak nenek moyang kita, kepedulian dan kerja sama telah tertanam dalam budaya kita, yang harus kita jaga dan pelihara. Kemajuan teknologi dan globalisasi jangan sampai membuat budaya peduli dan gotong royong Indonesia hilang. Oleh karena itu, berhentilah bermalas-malasan dan sosialisasikan gotong royong dan sikap gotong royong di lingkungan sekitar Anda. Sebaliknya, biarkan generasi muda menghidupkan kembali budaya gotong royong. Karena kita adalah bangsa yang harus dijaga keutuhannya dan tidak terpecah belah oleh sikap yang tidak terduga, itulah yang menjaga agar identitas atau ciri bangsa Indonesia tidak tergerus oleh individualisme yang tinggi, seperti tingginya westernisasi, menjauhkan anarkisme, dan menjatuhkan. martabat dan nilai sesama manusia.
