Stereotype dan Diskriminasi Hobi Dalam Pergaulan remaja gen Z

Pergaulan merupakan kontak langsung antara individu yang satu dengan individu lainnya, dengan pergaulan orang bisa berinteraksi dengan lingkungannya.Tentunya dalam pergaulan diisi dengan manusia yang beragam,mulai dari segi karakteristiknya,minat bakatnya,hobinya,latar keluarganya,dsb. Maka dari itu pergaulan tidak hanya positif,ada juga pergaulan yang negatif. Tak jarang masyarakat yang terkena dampak pergaulan yang negatif,khususnya di kalangan remaja gen Z,karena di masa ini adalah masa dimana kita dihadapkan dengan banyak tantangan dan masalah. Di usia remaja, hal negatif sangat dekat dengan kita, dan kita di tuntut untuk dapat memilih serta memilah mana yang baik dan mana yang buruk untuk kita.

Berbicara tentang pergaulan negatif,banyak kita temui permasalahan remaja-remaja yang terkena dampak dari pergaulan negatif ini, salah satunya masalah stereotype dan diskriminasi hobi. Stereotype adalah suatu etika dalam suatu individu atau kelompok yang memiliki penilaian yang buruk terhadap individu atau kelompok lain, yang kemudian akan mengakibatkan prasangka yang merupakan pandangan negatif terhadap individu atau kelompok lainnya, dan akhirnya akan mengakibatkan diskriminasi.(NurKhofifah, 2019). Seperti halnya stereotype terhadap golongan orang yang menyukai anime,di media sosial sudah menjadi topik yang trending dimana banyak orang yang menilai bahwa orang yang menyukai anime cenderung menjadi individu yang aneh, anti sosial, dan fanatik pada suatu hal yang tidak seharusnya mereka sukai.Namun yang saat ini terjadi bukan hanya stereotype yang muncul tapi sudah mengarah ke diskriminasi hobi,dimana saat ini para remaja jika melihat individu lain yang menyukai anime akan dianggap orang yang asing dan tidak pantas untuk digauli. Namun, mirisnya, meski banyak orang melihat perilaku diskriminasi ini, kebanyakan memutuskan untuk tetap diam tanpa melakukan tindakan apapun untuk menghentikannya. Lebih parahnya lagi, tidak sedikit dari orang-orang tersebut justru setuju dan menganggap tindakan diskriminasi ini sebagai langkah yang benar.

Penyebab stereotype dan diskriminasi sendiri salah satunya dari pergaulan, pergaulan manusia juga melahirkan stereotip tertentu. Pergaulan yang dimaksud mulai di sekolah, lingkungan rumah, kuliah bahkan saat bekerja.Sering kita mendengar pepatah “Jika kita bergaul dengan orang menjual minyak wangi kita akan ikut berbau wangi, dan jika kita bergaul dengan orang menjual minyak tanah,kita akan bau minyak tanah” maknanya adalah saat kita bergaul dengan orang baik, maka kita akan ikut baik pula, dan saat kita bergaul dengan orang yang kurang baik, maka kita pun akan terpengaruh.Istilah itu sangat bisa direalisasikan di kehidupan nyata, saat kita bergaul dengan seseorang kita pasti mempercai semua kata katanya,apalagi jika orang itu berteman erat dengan kita, sulit untuk tidak terpengaruh dengan perkataanya.Selain faktor pergaulan, juga ada faktor media sosial, dimana ini menjadi faktor yang mempercepat steorotype terhadap suatu masalah berkembang hingga sampai di khalayak umum.

Dampak dari stereotype dan diskriminasi hobi ini tentu saja membuat korban menjadi muncul perasaan malu, putus asa, terisolasi, kehilangan kesempatan untuk berkembang lebih baik dari dirinya sendiri, selain itu, juga dapat membuat seseorang menjadi menutup diri dari pergaulan dengan alasan untuk menjauhi persepsi buruk tentang diri mereka,padahal pergaulan adalah HAM setiap individu dan itu harus dibebaskan, sehingga setiap manusia tidak boleh bibatasi dalam pergaulan, apalagi melakukan diskriminasi, sebab hal itu melanggar HAM.

Oleh karena itu, menurut penulis untuk menangani masalah seperti ini seharusnya kita dapat selektif dalam berteman dan bersosial media,dapat menahan pikiran kita untuk tidak sembarang menyatakan persepsi atas orang lain, sebelum kita benar-benar mengetahui siapa dan bagaimana orang tersebut.Jangan hanya memandang suatu kelompok atau individu dari satu sisi saja dan mengabaikan sisi lainnya yang merupakan sebuah kelengkapan dalam diri objek dan dilewatkan. Kita harus open minded dan menyadari bahwa setiap individu terlahir dengan keunikan tersendiri sehingga tidak perlu disamakan dengan individu yang lain apalagi kelompok. Kita juga harus menumbuhkan rasa saling menghargai terhadap perbedaan pada suatu kelompok. Maka dari itu sudah saatnya masyarakat lebih objektif dalam menerima sebuah stereotip yang hadir di tengah kehidupan bermasyarakat.

Penulis: Alisha A

Populer

Tim Nalantara

Kader seklaigus anggota Pengurus Rayon PMII Rayon Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UINSA dengan latar belakang sosial-politik dan riset, yang memimpin Nalantara sebagai ruang dialektika dan inspirasi pergerakan.

M. Ali Kurrobi

Direktur Eksekutif

Nazilatus Sholikhah

Direktur Riset

Karyamu ingin publis di sini?

Kirim Karyamu Sekarang

Artikel Lainnya

Satu kata untuk Perubahan

Gabung PMII